Era 60-an TNI AU Terbaik Di Asia Dan Jadi Salah Satu Yang Terkuat Di Dunia

TNI Angkatan Udara (AU) yang dulu namanya adalah AURI pernah menjadi kekuatan tempur yang paling ditakuti di dunia. Di era tahun 60-an AURI menjadi yang terkuat dan terbaik di ASIA serta salah satu yang terkuat di dunia. Hanya Amerika, Rusia, dan Inggris yang masih mampu mengimbanginya.

Gambar pesawat pengebom menakutkan TU-16 milik AURI Indonesia

Mungkin saat ini Angkatan Udara Indonesia masih kalah canggih dengan Singapura, namun Militer Indonesia sudah menunjukkan komitmennya untuk terus berbenah dan memperkuat diri dengan Alutsista canggih dan hebat. Misalnya sajaTNIAU telah meremajakan pesawat tempurnya dengan mendatangkan jet SUkhoi dan SU-35 dan Euro Fighter Thypon yang masih dalam proses. Tak hanya itu saja, kini Indonesia juga bekerja sama dengan Korea Selatan untukmembuat Jet tempur super canggih bernama IFX/KFX yang digadang sebagai pesawat tempur masa depan Indonesia.

Saat ini “Singapura” yang notabene Negara kecil boleh saja menyandang predikat sebagai Negara Asia tenggara dengan Angkatan Udara terkuat. Namun, Indonesia sudah lebih dulu menunjukkan keperkasaanya jauh-jauh dimana saat itu singapura masih belajar merangkak. Di era tahun 60-an kekuatan angkatan udara negeri kita boleh dibilang menjadi “singa”, tak cuma di Asia Tenggara, bahkan di kawasan Asia TNI-AU kala itu sangat diperhitungkan. Bahkan Cina maupun Australia belum punya armada pembom strategis bermesin jet. Sampai awal tahun 60-an hanya Amerika yang memiliki pembom semacam(B-58 Hustler), Inggris (V bomber-nya, Vulcan, Victor, serta Valiant) dan Rusia.

Pesawat TU-16 Indonesia yang melegenda.


Gelar “singa” tentu bukan tanpa alasan, di awal tahun 60-an TNI-AU sudah memiliki arsenal pembom tempur mutakhir (dimasanya-red) Tu-16, yang punya daya jelajah cukup jauh, dan mampu membawa muatan bom dalam jumlah besar. Pembelian Tu-16 AURI didasari, terbatasnya kemampuan B-25, embargo suku cadang dari Amerika, dan untuk memuaskan ambisi politik.

“Tu-16 masih dalam pengembangan dan belum siap untuk dijual,” ucap Dubes Rusia untuk Indonesia Zhukov kepada Bung Karno suatu siang di penghujung tahun 50-an. Ini menandakan, pihak Rusia masih bimbang untuk meluluskan permintaan Indonesia membeli Tu-16. Tapi apa daya Rusia, AURI ngotot. Bung Karno terus menguber Zhukov tiap kali bersua. “Gimana nih, Tu-16-nya,” kira-kira begitu percakapan dua tokoh ini. Akhirnya, mungkin bosan dikuntit terus, Zhukov melaporkan juga keinginan Bung Karno kepada Menlu Rusia Mikoyan. Usut punya usut, kenapa Bung Karno begitu semangat? Ternyata, Letkol Salatun-lah pangkal masalahnya. “Saya ditugasi Pak Surya (KSAU Suryadarma-Red) menagih janji Bung Karno setiap ada kesempatan,” aku Marsda (Pur) RJ Salatun tertawa.

Dirancang untuk menjadi serba bisa, Tu-16 diproduksi dalam berbagai varian untuk mata-mata, patroli maritim, pengumpul data elektronik intelijen, dan perang elektronik. Sebanyak 1507 pesawat dibangun di tiga pabrik pesawat di Uni Soviet antara tahun 1954 hingga tahun 1962. Varian untuk sipil, Tu-104 Camel, menjadi pesawat penumpang untuk maskapai penerbangan Uni Soviet, Aeroflot.

Pesawat Tu-16 sempat diekspor ke Mesir, Indonesia dan Irak. Pesawat pembom strategis ini terus digunakan oleh angkatan udara dan angkatan laut Uni Soviet (kemudian Rusia) hingga tahun 1993.

Gambar pesawat tempur TU-16 yang ditakuti Malaysia, Inggris dan Australia

25 unit pesawat bomber ini, varian Tu-16 KS-1 dimiliki oleh AURI (nama TNI-AU waktu itu) pada tahun 1961. Pesawat-pesawat ini digunakan untuk mempersiapkan diri dalam Operasi Trikora tahun 1962 untuk merebut kembali Irian Barat dari Belanda. Semua pesawat ini direncanakan untuk menyerang Hr. Ms. Karel Doorman, kapal induk AL Belanda yang tengah berlayar dekat Irian Barat yang saat itu menggunakan rudal anti-kapal AS-1 Kennel,

14 unit Tu-16 tergabung dalam Skadron 41 dan sisanya di Skadron 42. Kedua skadron ini bermarkas di Pangkalan Udara AURI Iswahyudi, di Madiun, Jawa Timur. Semua unit Tu-16 tidak diterbangkan lagi pada tahun 1969 dan keluar dari armada AURI pada tahun 1970.

Dengan program yang telah direncanakan oleh TNI AU saat ini dan kedepan bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan gelar itu kembali melekat dalam diri TNI AU.
NA/DetikMiliter.com

Label: